Jumat, 17 Juli 2015

Islam Rahmatan Lil Alamin - Saripati Hikmah Iedul Fitri 1436 H

Shaum Ramadhan diakhiri dengan perayaan hari kemenangan atau yang lazim dikenal dengan istilah “lebaran” pada setiap 1 Syawal ditahun Hijriah. Dalam fiqih Islam lebaran disebut dengan “Iedul Fitri” yang berarti kembali kepada fitrah manusia yaitu disucikan kembali sebagaimana bayi yang baru lahir. Penyucian diri selama puasa dibulan ramadhan dengan berbagai aktifitas ibadah menghasilkan diri yang bebas dari dosa dan kesalahan masa lalu. Demikian Allah Swt memerintahkan kepada hambanya seperti yang tersebut dalam Alqur’an (QS.Al Baqarah 183) : “Yaa ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumus shyiamu kama kutiba ‘alalladzina min qoblikum la allakum tattakun”, artinya : “ Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang terdahulu, supaya kamu menjadi taqwa”.
Predikat taqwa adalah kedudukan tertinggi setelah seseorang itu beriman. Orang yang taqwa adalah orang yang senantiasa melaksanakan perintah Allah secara kaffah (menyeluruh) serta menjauhi segala yang dilarang. Predikat taqwa adalah makom atau kedudukan orang-orang soleh yang menghindar dari berbuat dosa. Predikat taqwa akan diperoleh setelah seseorang bertaubat secara sungguh-sungguh dengan berpuasa dan melaksanakan ibadah sholat baik yang 5 waktu maupun yang sunnah seperti tarawih, tobat, tahajjud, hajat, syukrul nikmat, birul walidain, lidaf’il bala’I, isroq, isti’adah, istikhoroh termasuk pula sholat sunat qobliyah dan ba’diyah. Sisi lain yang juga dijalankan orang-orang soleh adalah berdzikir, bershodaqoh, membayar zakat fitrah, zakat maal, fidyah, infaq dan berbagai kebaikan lainnya seperti membangun silaturrahmi, menolong fii sabilillah serta menjauhi kemungkaran. Semua aktifitas ibadah dibulan ramadhan tersebut dilipat-gandakan pahalanya oleh Allah Swt, maka wajarlah jika amal ibadah yang dibarengi dengan keikhlasan itu membuahkan ampunan dari Allah Swt. sehingga seorang muslim memperoleh predikat taqwa dan menjadi golongan muttaqin.
Puncak ritual ramadhan adalah Iedul Fitri sebagai manifestasi perayaan hari kemenangan atau lebaran. Iedul Fitri dilaksanakan bersamaan dengan pergantian bulan yaitu pada 1 Syawal. Semua kaum muslimin dan muslimat melaksanakan sholat ied dilapangan terbuka ataupun di masjid-masjid agung. Jamaah datang berbondong-bondong dengan membawa serta keluarga, kerabat maupun tetangga untuk sholat ied sekaligus mendengarkan khutbah iedul fitri, tak ketinggalan sayapun demikian. Berangkat selepas subuh dengan kendaraan sepeda motor menuju masjid Baitul Ulum UT Pondok Cabe untuk menunaikan shalat ied disana.

Kali ini saya mengendarai motor balap Vixion. Seperti biasanya jalanan dipagi itu cukup lengang, saya tancap gas dari Serpong dan sampai ke lokasi halaman parkir UT Pondok Cabe tak lebih dari 15 menit. Tampak para petugas sibuk membagikan kantong plastik untuk wadah sandal, mengatur kelompok jamaah dan mengatur shaf atau barisan agar tertib dan rapih. Beberapa kali terdengar maklumat panitia agar barisan terdepan dipenuhi terlebih dahulu mengingat demikian banyak jamaah yang hadir di lokasi tersebut.






Dalam khutbah iedul fitri, DR.H.Dayat Hidayat MM, mengulas tentang indahnya Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin dengan mengutip kandungan Al Qur’an Surah Al-Anbiya’ ayat 107 : “Wa maa ‘arsalnaka ‘illa rahmatan lil’alamin” yang artinya “Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.

Rahmatan lil’alamin berarti kasih sayang bagi semesta alam yang bermakna bahwa kehadiran Islam ditengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam. Kata “kasih sayang” disebutkan dalam Al Qur’an berulang-ulang bahkan terdapat dalam 90 ayat. Ibnu Abbas mengatakan bahwa kerahmatan Allah meliputi orang-orang Mukmin dan juga orang-orang kafir, orang baik (al-birr) dan yang jahat (al-fajir) serta semua makhluk.

Melaksanakan Shaum dibulan Ramadhan merupakan satu diantara ritual yang baru saja kita selesaikan. Kata “Ramadhan” merupakan bentuk mashdar (infinitive) yang berasal dari kata ramidha, yarmadhu yang pada mulanya berarti membakar, menyengat karena terik atau sangat panas. Saat ditetapkan sebagai bulan wajib berpuasa ketika itu di jazirah Arab udara/ cuaca sangat pana sehingga nyaris membakar sesuatu yang kering.

Ramadhan berarti “mengasah” karena masyarakat jahiliyah pada ketika itu mengasah alat-alat perang (pedang, golok, tombak dll) untuk menghadapi perang pada bulan berikutnya. Sehingga ramadhan bermakna sebagai bulan untuk mengasah jiwa, ketajaman fikiran dan kejernihan hati, sehingga dapat membakar sifat-sifat tercela dan lemak-lemak dosa yang ada dalam diri kita.

Ramadhan juga mengandung makna sebagai bulan Al Qur’an (Syahr Al Qur’an), karena pada bulan Ramadhan inilah pertama kali Al Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ramadhan sebagai bulan puasa wajib (Syahr As Shiyam), karena hanya pada bulan Ramadhan muslim diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Ramadhan sebagai bulan membaca Al Qur’an (Syahr Al Tilawah), karena pada bulan Ramadhan Jibril Alaihis Salam menemui Nabi Muhammad SAW untuk melakukan tadarus Al Qur’an dari awal hingga akhir Ramadhan. Ramadhan sebagai bulan penuh limpahan rahmat dari Allah (Syahr Ar Rahmah), karena Allah menurunkan berbagai rahmat yang tidak dijumpai diluar Ramadhan. Ramadhan sebagai bulan pembebasan dari siksa neraka (Syahr An Najat) karena Allah menjanjikan pengampunan dosa dan pembebasan diri dari siksa api neraka bagi yang berpuasa karena iman dan semata-mata mengharap ridha-Nya. Ramadhan sebagai bulan yang berujung/ berakhir dengan hari raya (Syahr Al Ied). Ramadhan sebagai bulan kedermawanan (Syahr Al Judd) karena dibulan tersebut umat islam dianjurkan banyak bersedekah terutama untuk meringankan beban hidup fakir miskin. Ramadhan sebagai bulan kesabaran (Syahr As Shabr) karena puasa melatih seseorang untuk bersikap dan berprilaku sabar, berjiwa besar dan tahan uji. Ramadhan sebagai bulan Allah (Syahrullah) karena Allah melipat-gandakan pahala bagi orang yang berpuasa.

Lebih lanjut khatib juga menguraikan mengenai beberapa ritual Islam yang juga diwajibkan demi tujuan agar tercipta kedamaian, kasih sayang dan kebahagiaan bagi seluruh alam. Ritual tersebut mencakup : Mengikrarkan Dua Kalimah Syahadat; Mendirikan Shalat; Menunaikan Zakat; dan Melaksanakan Haji.

Semua ritual yang diperintahkan Allah bagi hambanya bermuara kepada tercipta keharmonisan bagi seluruh alam. Dengan mengamalkan rukun Islam maka terwujudlah tugas kerasulan Muhammad yaitu menjadi rahmat bagi semesta alam.

Khutbah ditutup dengan berdoa kehadirat Allah SWT …

Ya Allah, Pemilik Bulan Ramadhan dan Pemilik Hari Iedul Fithri, kami berlindung dengan keagungan wajah-Mu yang mulia dari usainya Ramadhan. Sementara pada diri kami masih tersisa dosa-dosa dan kejelekan-kejelekan kami, ampunilah kami dan jangan Engkau azab kami karenanya.

Ya Allah, jangan jadikan puasa kami yang baru berlalu sebagai puasa yang penghabisan dalam hidup kami.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mendengar Tiada Tuhan Selain Engkau. Inilah kami orang-orang yang berlumur dosa, menengadahkan tangan pada-Mu, memohon belas kasih-Mu. Kami mohon kepadaMu ya Allah, agar dihari yang penuh kemuliaan ini pengampunan ayas seluruh dosa kami Ya Allah.

Ya Allah sekelam apapun masa lalu kami, senista apapun aib-aib kami dan sekotor apapun tangan kami, bersihkanlah dihari Iedul Fitri ini, hari yang suci ini.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kedua orang tua kami, sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangi kami sejak kecil. Jangan Engkau bebankan kepada mereka tanggungjawab jika ada kekurangan mereka dalam mendidik kami sehingga kami tidak taat kepadaMu.

Ya Allah selamatkanlah seluruh anggota keluarga kami dari kesengsaraan dunia dan akhirat. Jadikanlah hidup kami penuh dengan cahaya hidayahMu yang akan mengantar kepada sorgaMu.

Ya Allah Maha Pengasih dan tak pilih kasih, jadikanlah pemimpin negeri ini adalah orang yang Engkau selalu tuntun dijalanMu yang memiliki kearifan dalam menjalankan amanah yang selalu bersemangat dan tanpa lelah dalam pengabdian, sehingga Engkau menolongnya dan membimbingnya menemukan yang terbaik untuk negeri kami.

Ya Allah berikanlah kelapangan bagi kami yang dihimpit kesusahan, berikan pula kecukupan bagi kami yang kekurangan.

Ya Allah berikanlah kesabaran dan sembuhkan saudara kami yang sedang terbaring sakit. Lapangkan pula liang lahat saudara, keluarga dan kerabat kami yang kini tidak bersama kami lagi terbaring dalam kubur, ampuni mereka dan sayangi mereka Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.

Ya Allah jadikan anak keturunan kami lebih baik dari pada kami, jangan biarkan mereka mencoreng aib diwajah kami. Ampunilah jikalau kami salah dalam mendidik mereka. Yaa Rabb bimbinglah mereka dalam hidayahMu di kehidupan mayapada ini.

Ya Allah bukakan hati kami untuk saling memaafkan, jangan biarkan ada dendam kesumat yang terpendam.

Ya Allah lindungi Islam dari perpecahan, lindungi ummat Islam dari kehinaan, lindungi semua pejuang agamaMu dan selamatkanlah mereka dimanapun mereka perjuang.

Rabbana atina fidunya khasanah wa fil akhiroti hasanah wakina azabannar, walhamdulillahi robbil ‘alamien.

Ibadah shalat iedul fitri 1436 H diakhiri dengan bersalam-salaman dan kembali kerumah masing-masing. [Gway]